Selasa, 06 Maret 2012

Nail Art



Kini, tren dunia kecantikan tidak sebatas rambut dan wajah tapi sudah bergeser keperawatan hampir seluruh bagian tubuh. Mulai dari menghilangkan bulu-bulu tersembunyi agar kulit licin mulus (waxing), merawat kuku-kuku tangan dan kaki(manikur-pedikur), hingga mempercantik kuku (nail art, nail spa). Di Jepang dan Korea, nail art dan nail spa telah menjadi life style masyarakatnya dan berkembang sebagai industri kreatif. Bagaimana di Indonesia?
Nail spa dan nail art adalah pengembangan dari manikur-pedikur, perawatan ini dilakukan agar kuku tangan (ataupun kaki) tumbuh rapi, bersih, sehat, dan cantik. Dengan nail art, 10 ruas kuku yang sudah dirawat dengan manikur dan pedikur, diberi pewarnaan dengan motif-motif yang indah, menggunakan teknik airbrush, nail art, ataunail extension. Jika nail art melukis dan mewarnai kuku asli, sedangkan nail extensiondilakukan di atas kuku yang terlebih dulu ditempeli kuku palsu.

seni melukis kuku pertama kali dikembangkan di Perancis oleh produsen kosmetik Revlon. Di Jepang, nail art telah menyatu dengan industri fashion dan sangat eksis melalui Japan Nail Association yang selama 25 tahun terakhir menggelar Festival Nail Art sebagai ajang tahunan. Di Korea, di mana budaya pop sangat dominan, nail art shop memenuhi hampir setiap sudut kota. Bahkan banyak artis pria Korea menjadi pelanggan nail art shop.

Di New York, nail art telah menjadi industri kreatif yang sangat berkembang. Mulai dari penerbitan (Nail Magazine), TV show (NailTV), hingga konstltan salon nail (New York City Nail Salon).


Di Indonesia, tren perawatan dan pewarnaan kuku sebenarnya sudah ada cukup lama. Sejak tahun 1990-an di Bali, terutama di Pantai Kuta, warga setempat menghias kuku para turis dengan cat warna-warni dan motif yang indah. Sedangkan di salon-salon, tren nail art baru mulai heboh sekitar tahun 2006. Untuk pertama kalinya  di tahun 2007 digelar Nail Art Competition yang disponsori oleh Color Club, produk nail art dari Amerika. Kompetisi yang sama kemudian berlangsung berturut-turut tahun 2008 dan 2009, dan diikuti lebih banyak nail artist dari seluruh Indonesia.  Di tahun 2008 dengan semakin banyaknya pegiat nail art, dibentuklah Indonesia Nail Association (INA), yang diketuai Nathalia Kharakhati. Di medio tahun 2011,  berdiri pula Nail Academy, lembaga pendidikan nongelar nail art pertama di Indonesia yang berlokasi di Jalan Kaji, Jakarta Pusat.

Di Jakarta, terdapat beberapa salon kuku yang khusus menyediakan layanannail art. Kebanyakan salon-salon itu terletak di mal-mal kawasan Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan. Pelanggan bisa merawat dan mempercantik kuku dengan beragam pilihan motif dan warna. Mengapa mereka menyukai nail art? Salah seorang pelanggan nail art mengakui, sebagai pengusaha yang berbisnis ke luar negeri, dan sering berinteraksi dengan banyak orang penting, ia kurang pede jika harus bersalaman dengan klien jika keadaan kukunya kurang baik.”Klien-klien saya yang orang bule sangat memperhatikan keindahan kuku. Saya jadi minder kalau kuku saya jelek. Dulu saya terbiasa memakai kuku palsu dan melakukan nail art di Singapurasebulan sekali sambil berbisnis. Tapi setelah di Jakarta berdiri salon kuku semacam ini, saya berlangganan di sini saja,” katanya.

Peminat nail art di kota-kota besar Indonesia terus bertambah. Bahkan sebuah salon kuku terkenal di Jakarta telah memiliki 1.000 anggota tetap, para pelanggannyawajib membuat reservasi tempat terlebih dahulu sebelum datang. Pasalnya, salon tersebut selalu ramai oleh para pelanggan terutama di akhir pekan. Peminat nail artsaat ini terbatas kaum wanita. Umumnya, penggemar fanatik nail art adalah para remaja dan turis Jepang. Warna yang menarik dan motif yang unik membuat mereka menjadi lebih pede. Sedangkan layanan nail extension lebih digemari oleh wanita karier yang kerap bertemu banyak klien.
Biaya nail art lumayan mahal, misalnya saja di Color Club, pemasangan nail extension dengan French manicure biayanya sekitar 500 ribu rupiah. Sedangkan nail art untuk 10 kuku dipatok mulai 250 ribu rupiah. Tak mengherankan jika pelanggan nail art datang dari kelas menengah atas. Tak jarang pula kaum ekspatriat datang untuk merawat dan memperindah kukunya. Salah satu pelanggan Color Club adalah KD (Krisdayanti) yang rutin mendatangkan nail technician (petugas yang mahir membuatnail art) ke rumahnya.
Nail art atau seni memperindah kuku perlahan akan menjadi gaya hidup trendi kaum urban. Bagi para wanita yang ingin tampil menarik, seringkali biaya tak menjadi masalah. Apalagi bagi para entertainer dan selebriti, penampilan yang berbeda di media tentu menambah nilai jualnya.
Industri pendukung nail art pun akan terdongkrak mulai dari produk dan aksesorinya, media cetak, media online, dunia fashion, advertising, dan lainnya. Dan tak kalah penting adalah kebutuhan akan ‘man behind the gun’ yaitu nail artist, technician, para seniman pelukis kuku yang berkarya menciptakan kuku-kuku indah…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar